![]() |
| Dataran Tinggi Gayo, Kab. Bener Meneriah, Aceh Tengah |
Bismillahirrohmaanirrohiim,
Hai Siti kahwa, Kao Ku kawinkan urung kuyu, wihkih walimu, tanoh kin saksi
muhrimmu, mata uroe kin saksi pernikahanmu, kao kawinkan urung kuyu sebagai
suamimu.
(Bismillahirrohmaanirrohiim, Hai siti kawa (kopi), kau
kukawinkan dengan angin, air sebagai walimu, tanah sebagai saksi muhrimmu,
matahari sebagai saksi pernikahanmu, kau kukawinkan dengan angin sebagai
suamimu)
Nama gayo sudah menjadi primadona dalam dunia kopi baik untuk
pasar lokal maupun luar negeri. Secara biologi, biji kopi yang kita nikmati
saat ini adalah hasil dari panen buah kopi yang sudah matang dan berwarna merah
yang dikupas dan dikeringkan untuk mendapatkan biji kopi.
![]() |
| Bunga kopi yang masih kuncup |
Sederhana, buah tersebut adalah hasil dari pembuahan serbuk
sari pada putik bunga kopi yang dibawa oleh berbagai macam pembawa baik itu
angin, serangga, atau bahkan tangan manusia. Hal itu sudah sangat umum dan
dilihat sebagai peristiwa yang sewajarnya dan biasa. Namun bagi petani Gayo
yang menggantungkan hidupnya pada komoditas Kopi Gayo, hal ini menjadi sebuah
anugrah dari Tuhan YME dan selayaknya diperlakukan sebaik dan sesempurna
mungkin.
Pembacaan Ijab Kobul, seperti diatas adalah salah satu wujud
cinta dan dedikasi petani di Gayo. Tradisi ini lahir sudah bertahun-tahun
lamanya dan hingga saat ini, masih ada beberapa petani yang masih
mempertahankan “doa” ini sebagai wujud mensyukuri ciptaan Tuhan YME yaitu kopi
yang bercita rasa tinggi.
![]() |
| Pemetik kopi di Gayo |
Tradisi ini tumbuh hampir di seluruh desa di daerah dataran
tinggi Gayo yang diantaranya adalah kab.Bener Meriah, Kab.Aceh Tengah, dan
Kab.Gayo Lues. Dasar pemikiran daripada diciptakannya Ijab Kobul ini adalah
rasa cinta dan syukur atas karunia Tuhan kepada penduduk setempat yang
mengganugrahkan sebuah kopi yang bercita rasa tinggi. Pada tahun 2011, Kopi
Gayo berhasil meraih harga lelang tertinggi melalui lelang yang diadakan oleh
SCAA (Specialty Coffee Association
America) di Oregon, Amerika Serikat dengan harga $7.2 hingga $8 per kilo.
Sumber:
Film “Biji Kopi Indonesia –Aroma of
Heaven- oleh Budi Kurniawan, atjehliterature.blogspot.com, lintasgayo.com
See you next time! :)






